Sekjen Kemenkes Tinjau Pembangunan Kesehatan di Perbatasan Kalimantan-Malayasia

PWRIonline.com

Bengkayang – Warga di perbatasan memiliki hak yang sama dengan warga lainnya akan kesehatan. Dalam upaya pemerataan akses kesehatan agar mudah dicapai oleh masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI membangun fasilitas kesehatan dengan fasilitas yang baik di daerah pinggiran hingga perbatasan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen), Kemenkes dr. Untung Suseno Sutarjo meninjau pembangunan kesehatan di perbatasan Kalimantan – Malaysia pada Sabtu (13/10). Dr. Untung beserta rombongan melakukan peninjauan ke Puskesmas Jagoi Babang, Kabupatena Bengkayang, Puskesmas Singkawang, dan RSUD dr. Abdul Aziz, Singkawang, Kalimantan Barat.

“Ini (pembangunan fasilitas kesehatan di perbatasan) kan salah satu upaya pemerintah untuk masyarakat yang tinggal di perbatasan negara bahwa mereka mendapatkan pelayanan yang baik,” kata dr. Untung.

Dibangunnya fasilitas kesehatan di perbatasan dengan fasilitas yang mumpuni tidak lain untuk menjamin masyarakat mendapatkan akses kesehatan yang sama dengan masyarakat di perkotaan. Bahkan tidak jarang warga Malaysia yang berobat ke Puskesmas kita di perbatasan misalnya di Puskesmas di Sambas.

“Kita ingin menunjukan bahwa pelayanan kita bagus. Kalau begini, warga Malaysia pun bisa berobat di Puskesmas perbatasan kita,” ucap dr. Untung.

Di Bengkayang, Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana, drs. Stefanus Salikin mengatakan Puskesmas Jagoi Babang merupakan salah satu Puskesmas dari 17 Puskesmas dengan fasilitas baik. Ada 2 Puskesmas yang letaknya berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia, yakni Puskesmas Jagoi Babang dan Puskesmas Siding.

“Tujuan kami adalah meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan status gizi masyarakat, menghindarkan penyakit menular, dan menghadirkan pelayanan kesehatan yang mudah dan terjangkau merata di seluruh kabupaten,” kata Stefanus.

Selain itu, tenaga kesehatan di Kabupaten Bengkayang ada 810 orang. Dr. Untung menambahkan jumlah dokter itu sudah cukup namun tinggal dilengkapi dokter spesialis.

(Kemenkes/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.