Ketua DPD PWRI DKI Jakarta dan Ketum PWRI Adakan Ziarah Ke Makom Pangeran Jayakarta

PWRIonline.com

Jakarta – Dalam agenda perdananya Kepengurusan Pembetukan struktur Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) DKI Jakarta yang di ketuai Syamsudin Robbitullah, S.Pd.I. (Syamy Robby),
dihadiri Ketua Umum DPP PWRI Dr. Suriyanto, P.D,. S.H., M.A., MKN,.di Dampingi Pengurus DPP PWRI, bersama team DPD PWRI DKI Jakarta dari berbagai media Mengadakan Ziarah dan Do’a bersama ke makom Pangeran Jayakarta yang Terletak di Jatinegara kaum kec.Pulo Gadung, Jakarta Timur.Rabu (23/1/2019) pukul 12.00 WIB.

Dalam Kesempatan Ketua DPD PWRI
Syamsudin Robbitullah, S.Pd.I. Mengatakan, Terima Kasih Kepada Ketua Umum DPP PWRI Dr. Suriyanto, P.D,. S.H., M.A., MKN,. dan Jajarannya yang telah hadir unktuk kebersamaan dalam rangka silaturahim PWRI,
tutur Syamy Robby

Lebih lanjut lagi Syamy Robby mengatakan dan
melangkah kedepan kita mari kita meminta keridhaan Allah SWT, Agar senantiasa PWRI selalu Jaya dengan maksud dan tujuan dengan ziarah ke makom pangeran Jayakarta yang ada provinsi DKI diawali membaca doa dengan bermunajat kepada Allah SWT dan tabur bunga sebagai tanda penghargaan untuk Para Pahlawan, pungkas Syamy Robby.

Mengenal Pangeran Jayakarta

Terdapat beberapa versi tentang ketokohan Pangeran Jayakarta. Asal-usul Pangeran Jayakarta atau Jayakerta masih samar.

Dalam situs internet Pemerintah Jakarta Timur disebutkan, Pangeran Jayakarta adalah nama lain dari Pangeran Akhmad Jakerta, putra Pangeran Sungerasa Jayawikarta dari Kesultanan Banten.

Menurut sebuah sumber sejarah lain, Pangeran Jayakarta adalah putra Ratu Bagus Angke, juga bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Pangeran Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan yang konon menantu Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.

Pangeran Jayakarta mewarisi kekuasaan atas Jayakerta dari Ratu Bagus Angke, yang sebelumnya memperoleh kekuasaan itu dari Fatahillah, yang memutuskan pulang ke Banten (Banten Lama sekarang), setelah berhasil merebut pelabuhan itu dari Kerajaan Pajajaran pada pertengahan Februari 1527. Waktu itu, ia juga berhasil menghalau pasukan Portugis.

Versi  lain Fatahilah adalah ulama  asal Samudera Pasai yang  baru saja pulang dari Mekkah. Ulama muda itu adalah Fadhilah Khan, orang Portugis mengucapkannya dengan nama Fatahillah atau Falatehan.

Sebelum berangkat ke Mekah, ia sudah tahu jalinan hubungan baik antar kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Demak di Jawa. Ia berpikir, kelak jika tidak bisa masuk ke tanah kelahirannya usai menuntut ilmu di Mekah, ia bertekad menuju Demak.

Pada masa itu hanya ada tiga kekuatan Islam yang tumbuh dan berkembang di tanah Jawa, yaitu Demak, Banten, dan Cirebon, di wilayah Utara Jawa Barat. Fatahillah berhasil menyusup ke Cirebon.

Bersama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, ia mensyiarkan agama Islam di tanah Sunda ini, bahkan ia sempat menjadi warga kehormatan di kerajaan Cirebon.

Cukup lama pemuda Aceh ini menetap di Cirebon. Ia menikah dengan Ratu Ayu, anak pasangan Syarif Hidayatullah dan Nyai Kawunganten asal Banten. Istri Fatahillah kemudian dikenal dengan nama Putri Wulung Ayu.

Setelah cukup lama menyebarkan agama Islam di Jawa Barat bersama sang mertua, niat utama Fatahillah untuk menuju Demak akhirnya tercapai juga. Itu dimungkinkan karena Kharisma dirinya yang telah lebih dulu masuk ke Demak.

Sultan Trenggana memberikan persetujuan terhadap rencana Fatahillah untuk mengusir Portugis yang bercokol di tanah Sunda atau Sunda Kelapa. Pada 22 Juni 1527, pasukan gabungan dari Demak, Cirebon dan Banten, di bawah pimpinan Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa.

Tanggal 22 juni dijadikan sebagai hari jadi kota Jakarta. Fatahillah kemudian mengganti nama Bandar kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti kejayaan dan kesejahteraan, atau kemenangan yang sempurna.

Sejak saat itu, berakhirlah masa Sunda Kelapa, dan mulailah masa Jayakarta yang berlangsung hampir satu abad (1527-1619). Fadhilah Khan diangkat sebagai penguasa Jayakarta yang pertama dengan gelar Adipati sampai ia meninggal pada tahun 1570.

Menurut Adolf Heukeun SJ dalam buku Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta Jilid II, silsilah ini tidak sesuai dengan sumber-sumber sekunder lain karena sumber-sumber yang digunakan oleh hikayat mengandung banyak cerita dongeng

Persi Laninnya

Salah satu versi mengatakan Pangeran Jayakarta telah mati di sumur tua di daerah Angke ketika dikejar oleh tentara VOC. Pada saat itu, ditemukan jubah Pangeran Jayakarta di liang sumur. Sementara, versi yang lain mengatakan, setelah dinyatakan mati di sumur tua, wujud Pangeran Jayakarta ditemukan kembali di daerah Mangga Dua. Tetapi, banyak ahli sejarah yang meragukan kebenaran cerita-cerita tersebut. Berbagai cerita yang tersebar di masyarakat diyakini sudah bercampur dengan cerita hikayat yang syarat akan hal-hal fantasi.

Versi terakhir menjelaskan, ketika dikejar oleh tentara VOC, Pangeran Jayakarta beserta pengikutnya melipir ke selatan. Rombongan ini masuk ke sebuah tepian kali yang membelah hutan jati. Pangeran Jayakarta beserta pengikutnya kemudian membuka hutan dan di tempat tersebut dibangun sebuah masjid. Sebelum bernama As Salafiah, masjid tersebut bernama Masjid Pangeran Jayakarta, yang sengaja dibangun oleh pasukan Pangeran Jayakarta untuk menghimpun kekuatan kembali. Banyak yang mempercayai di tempat inilah Pangeran Jayakarta dimakamkan.

Makam Pangeran Jayakarta bersebelahan dengan Masjid As Salafiah, tepatnya di Jalan Jatinegara Kaum. Memasuki kawasan masjid, pengunjung akan melihat sebuah pendopo. Di pendopo yang berukuran 10×10 meter ini, terdapat lima makam. Salah satu makam tersebut merupakan makam Pangeran Jayakarta. Makam ini dapat dikenali dari tulisan Achmad Jacetra pada batu nisannya. Sementara di sebelahnya, terdapat makam Pangeran Lahut yang merupakan putera dari Pangeran Achmad Jacetra.

Untuk mengenang perjuangan Pangeran Jayakarta, pada ulang tahun Kota Jakarta ke-441, Gubernur Ali Sadikin meresmikan berdirinya Makam Pangeran Jayakarta. Kemudian, pada 1999, berdasarkan Perda Khusus Ibukota Jakarta No. 9, Makam Pangeran Jayakarta diangkat statusnya menjadi benda cagar budaya. Sebagai benda cagar budaya, segala bentuk perubahan harus meminta izin terlebih dahulu kepada pemerintah daerah. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga keaslian makam.

(Team Investigasi PWRI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.